Para Penguasa Ajatappareng: Refleksi Sejarah Sosial Politik Orang Bugis

Rp60,000.00

About The Author

Abd. Latif

Umumnya sejarawan yang meneliti dan menulis tentang sejarah Bugis mengandalkan sumber-sumber asing, terutmanya sumber Belanda. Penulis buku ini memilih cara lain dengan menggunakan sumber lokal yang disebut lontaraq sebagai sumber utamanya.
Perkawinan dan konflik adalah siklus politik yang senantiasa menyertai dinamika sejarah politik orang Bugis di Sulawesi Selatan. Jika perkawinan menjadi petunjuk luasnya jaringan kekerabatan dan luasnya pengaruh politik, maka konflik menjadi penentu siapa yang akan menjadi sentral figur dalam jaringan kekerabatan dan pengaruh politik yang luas itu.
Migrasi politik sering diartikan sebagai perpindahan komunitas politik dari satu negara atau daerah ke negara atau daerah yang lain. Lain dari itu, buku ini membuktikan bahwa migrasi politik dapat juga bermakna perpindahan komunitas politik dari satu sentral figur ke sentral figur yang lain.
Buku ini menunjukkan tentang keunikan sejarah dan budaya politik Bugis. Perempuan dapat menjadi raja dan lebih unik lagi bahwa raja tidak mesti digantikan oleh putera atau puterinya. Sejarah Ajatappareng membuktikan raja bisa digantikan oleh adiknya, kakaknya, pamannya, tantenya, ayahnya, isterinya, dan bahkan termasuk cucunya. Untuk menghindari konflik perebutan tahta kekuasaan, maka ada dua mekanisme pergantian raja di Ajatappareng. Pertama, raja yang berkuasa mencalokan bangsawan tertentu sebagai bakal penggantinya. Kedua, apabila raja yang berkuasa tidak pernah menentukan calon, maka ketika raja wafat menjadi tanggung jawab dewan hadat kerajaan bersidang untuk memilih dan melantik bangsawan tertentu sebelum mayat raja dimakamkan.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Para Penguasa Ajatappareng: Refleksi Sejarah Sosial Politik Orang Bugis”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.