Dua Kota Satu Cerita Dinamika Kerukunan dan Pemanfaatan Modal Sosial di Ruang Konflik

Buku tipis tapi penting ini menunjukkan bagaimana modal sosial yang ada di Kota Ambon dan Kota Tual berhasil membangun kembali kerukunan masyarakat pascakonflik di dua kota itu. Saya terkesan dengan kejelian penulisnya dalam menangkap berbagai ekspresi dan dampak modal sosial itu—bukan saja dari para pemimpin agama atau adat, tetapi juga dari orang-orang biasa seperti ibu-ibu di pasar atau anak-anak muda yang punya hobi fotografi. Buku ini penting dibaca bukan saja oleh para pembuat kebijakan agar dapat memanfaatkan berbagai modal sosial untuk mencegah konflik sosial di masa depan, tetapi juga oleh para akademisi agar bisa menghasilkan penelitian-penelitian sosial yang kreatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari (Ihsan Ali Fausi, Direktur PUSAD Paramadina).

Bayangkan terkepung tsunami provokasi beraroma anti SARA. Berjalan, berlari, terbang, terserah! Tertawa, menangis, marah, terserah. Begitulah jika berada di jantung Ambon atau Tual tahun 1999 sebagai pelaku, saksi, atau korban. Siapa saja bisa frustrasi karena merasa diri paling sial di Bumi. Akan tetapi, tahun-tahun berikut ketika asap masih membumbung, telah muncul satu lapisan baru generasi milenial yang merajut perjumpaan kreatif penuh makna. Langgam mereka sungguh mengharukan sebab mereka membangun perdamaian sejati dari jiwa yang semula porak-poranda menjadi bangunan Maluku, bagai baru diciptakan kembali. Siapa saja merasa paling berbahagia sebagai saksi rekonstruksi batin kebudayaan Maluku. Buku ini mengungkap denyut nadi orang Maluku sebagai petarung paling berani yang suka damai. Maka dengan mata batin bening, kita bisa saksikan sidik jari Tuhan (Rudi Fofid, penyair di Ambon).

Menceritakan ulang konflik Maluku dengan berbagai cerita-cerita pilu yang menyertainya bukan merupakan satu hal yang mudah, karena konflik tersebut begitu membekas. Namun dinamika kemasyarakatan yang terjadi selama dua dekade terakhir di Maluku, menunjukkan bahwa orang Maluku, baik orang tua maupun anak-anak muda tidak mau membiarkan konflik tersebut menghantui kehidupan dan masa depan mereka. Kisah-kisah inspiratif yang diangkat dalam buku ini menunjukkan energi positif orang Maluku dalam merajut persaudaraan yang sempat terkoyak dengan menghidupkan kearifan lokal orang basudara sebagaimana terungkap dalam diksi lokal hidop baku bae, suka biking bae, laen sayang laen dan seterusnya. Oleh sebab itu sebagai pemimpin agama di Maluku, kami sangat mengapresiasi kegigihan Dr. Yance Z. Rumahuru untuk merekam kisah-kisah dimaksud sebagai bagian dari penguatan struktur perdamaian di Maluku dari waktu ke waktu. (Abdulah Latuapo, Ketua MUI Maluku).

Rp45,000.00

Category:

Book Details

Weight 0.1 kg
Dimensions 14 × 21 cm

About The Author

Yance Z Rumahuru

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Dua Kota Satu Cerita Dinamika Kerukunan dan Pemanfaatan Modal Sosial di Ruang Konflik”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.